Eskul? Apa, ya?
Setelah 3 hari kami menghadapi MOS, kami mulai melakukan kegiatan belajar-mengajar. Kami mulai kedatangan wali kelas kami. Hari ini adalah hari kelima setelah masuk sekolah. Aku mulai sering naik antar-jemput ke sekolah agar tidak terlambat.
Aku mendapat nomor absen 12 setelah Angga. Aku benar-benar kaget ternyata Angga adalah anak kelas satu juga. Karena badannya yang tinggi aku jadi merasa ia kelas dua.
Hari ini ada pembagian selebaran untuk memilih eskul. Kupikir eskul? Buat apa? Toh, gak dinilaikan?
”Kamu apa, Han?” tanya Chacha.
”Kamu?”
”Aku seni tari aja deh! Kamu, Mar?”
“Aku basket. Kamu, Tas?”
“Aku paduan suara.”
“Aku bahasa inggris-matematika aja.”
”Serius?!” kata Chacha kaget.
”Kenapa? Kan, bagus tuh? Buat belajar.”
”Kalo kamu ikut eskul itu kamu bakal di cemoohin anak-anak dari kelas internasional.”
”He-eh. Kamu ikut basket aja?”
”Eh, Hanna? Kamu ikut eskul bahasa inggris-matematika?” tanya Angga tiba-tiba. Sentak aku kaget tak terkira.
”Eh, i...iya. Kamu?” tanyaku gagap.
”Aku juga sama. Kalau kamu mau ke ruang eskul, kita barengan aja. Duduk satu bangku,” kata Angga. Aku jelas kaget tak terkira. Lalu Angga meninggalkanku dan teman-teman termangu-mangu sendirian. Tiba-tiba Marka, Chacha dan Tasya nyegir melihat wajahku yang memerah karena deg-deg-an.
”Cieee...ada apa nih?” tanya Marka tersenyum sinis.
”Apaan sih?”
”Kamu suka sama Angga?” tanya Chacha.
”Eh...kamu ngamongin apa sih?”
“Eiittsss…liat kesebelahmu tuh!” kata Chacha.
“Ya, ampun. Kamu kenapa, Tas?” tanyaku. Muka Tasya ditekuk banget makin mirip sama kucing. Dari tadi Tasya diem melulu. Padahal biasanya dia paling semangat.
”Kamu kenapa, Tas?”
”Aku ditembak kakak kelas...” kata Tasya.
”Hah?! Belum seminggu udah ditembak?!” kami bertiga melongo berjamaah begitu denger pernyataan Tasya barusan yang bikin tambah getir ini hati.
”Terus dia kelas berapa? Orangnya kayak apa?”
”Dia kela 2-E, aku baru mau ketemuan nanti.”
“Kita liat, ya...”
Akhirnya aku, Marka dan Chacha ngikutin Tasya yang mau ketemuan ma kakak kelas yang nembak dia. Tiba-tiba waktu aku lagi siap-siap pulang sekalian ngikutin Tasya tiba-tiba Angga ngajak ngorbol.
“Han, kamu mau pulang?”
“Ah, i...iya...”
“Kamu langsung pulang?”
“A...anu...aku mau...” kataku sambil ngelirik Chacha dan Marka. Marka memberi aba-aba agar mengatakan mau makan di kafe bareng Chacha dan Marka.
”A...aku mau...ke...ke kafe, ya, ke kafe. Bareng Chacha dan Marka.”
”Ya, udah. Padahal aku mau ngajak pulang bareng. Gak pa-pa deh! Duluan, ya!” kata Angga. Aku melambaikan tanganku sambil berpikir “Kenapa aku gak ikut Angga aja coba? Bodoh....”
Tiba-tiba kakak kelas yang nembak Tasya dateng jemput Tasya. Tasya langsung memberi aba-aba untuk kami keluar. Kamipun keluar mengikuti aba-aba Tasya. Aku mencoba mencuri dengar dari luar.
“Anu, Tas. Kamu hari ini mau kemana?”
”Mmnn...ter, terserah saja. Terserah kakak,”
”Ahh...mau nonton?”
”Ah, nonton apa?”
”Hmm, nonton apa aja yang ada.”
“Iya deh.”
“Kamu siap-siap dulu, deh.”
“Iya,” jawab Tasya. Lalu kakak kelas itu keluar meninggalkan kelas satu. Aku, Chacha dan Marka masuk kelas menemui Tasya.
”Bukannya itu namanya kak Ali, ya?” tanya Chacha.
”Iya. Kok kenal?” jawab Tasya.
”Wah, beruntung banget kamu, Tas. Kak Ali itu beken banget loh disekolah ini. Katanya dia ikut eskul basket, kan,” ujar Marka.
”Iya...” jawab Tasya dengan wajah memerah.
”Kamu kenapa, Tas?” tanyaku.
”Gak, gak pa-pa. Duluan, ya! Aku sudah ditunggu,” jawab Tasya sambil meninggalkan kami. Kami termenung sendiri. Lalu mulai bicara lagi.
”Asyik ya Tasya!” kata Chacha.
”Ah, aku mau pulang aja,” kataku.
"Kamu kenapa?“
"Aku mau siap-siap buat tes besok.’’
’’Oh, iya besok kan ada tes penting, ya’’
”Iya, ya. Aku juga mau siap-siap buat tes besok.”
“Aku pulang duluan, ya!!!” kataku sambil berlari pulang mencari metromini. Tiba-tiba ketika hendak pulang aku bertemu Angga menunggu metromini. Aku deg-deg-an dan mendatangi Angga.
’’Hai, Angga ! ’’ sapaku.
’’Ah, hai ! Loh kamu belum pulang ? ’’
"Belum. Kamu nunggu metromini?“
"Ah, iya. Kamu?“
"Aku juga. Kamu jurusan mana?“
"Aku ke Pahlawan. Kamu?"
"Aku juga ke Pahlawan. Rumahmu di Pahlawan?“
"Iya, rumahku di Jalan Pahlawan bagian Pahlawan Ir. Soekarno.“
"Aku di Jalan Pahlawan bagian Muh. Yamin. Aku tinggal dengan nenekku.“
"Oh...Eh, itu ada metromini. Naik, yuk!”
"Ah, iya.”
Sepanjang aku naik metromini, aku melihat wajah Angga. Wajah Angga yang tampan, Badan Angga yang tinggi, membuatku jatuh cinta...Aduh, aku mikir apa sih???
“Eh, udah sampai loh?” kata Angga.
”Oh, iya,” jawabku sambil turun.
”3000 neng,” kata sopir metromini itu.
”Oh, iya! Ini, Pak!”
”Ya, sudah duluan, ya!” kata Angga. Aku membalasnya dengan lambaian tangan. Mataku terus menatap punggungnya yang bidang itu. Aku berpikir perasaan apa ini? Hingga sekarang aku belum bisa merasakannya.
Keesokan harinya seperti kemarin aku di jemput oleh antar jemput pukul 05.45 dan sampai sekolah pukul 06.15. Aku merasa aneh tapi mulai sekarang kehidupanku akan seperti ini. Di antar jemputku tidak hanya menjemput anak-anak kelas satu tapi juga anak kelas dua dan tiga sekolah regular. Kakak kelasku juga sering bergosip sebelum antar jemput kami kesekolah. Aku juga kadang ikut menggosip bersama kakak kelas karena kami sudah saling kenal.
”Eh, Din. Kamu kenal Angga anak kelas 1-C? Itu loh yang keren itu,” kata seorang kakak kelas.
”Oh, iya. Anak itu keren banget, ya? Dia ikut eskul apa, ya?” jawab seorang kakak kelas yang lain.
”Eh, Han. Kamu kenal anak kelas satu namanya Angga? Kamu kelas satu apa sih?” tanya mbak Tika.
”Eh, kelas 1-C. Aku kenal Angga. Kita kemarin pulang bareng,“ jawabku.
”Eh, kalau gitu kamu tau dong rumahnya Angga?” tanya mbak Tika lagi.
”Iya. Kakak mau minta alamatnya?” tanyaku. Seluruh kakak kelas secara bebarengan diam sejenak.
”Mau, mau.”
”Nih, tulis ya...Jalan Pahlawan gang Ir. Soekarno no.17.”
”Ya, ya, ya. Punya nomer hapenya gak?” tanya mbak Dinda.
”Nggak lah...buat apa coba?” jawabku keheranan.
”Ya, kan mungkin aja kamu butuh. Mintain dong...” kata mbak Dinda. Tiba-tiba mobil antar jemput berhenti. Ternyata kami sudah sampai di sekolah. Sekolah sudah di penuhi siswa-siswi kelas regular maupun siswa-siswi kelas SBI (Sekolah Berstandart Internasional). Kami segera keluar dari mobil antar jemput dan segera ke kelas masing-masing.
”Tanyain, ya...”
”Nanti kalau dia tanya knapa, aku jawab apa? Nanti aku yang dikiranya ngefans sama dia.”
”Ya jawab aja. Kan temen sekelas. Gitu aja kok susah,” kata mbak Dinda sambil ninggalin aku begitu aja.
Sesampai di kelas ternyata Chacha, Marka dan Tasya lagi asyik-asyiknya ngerumpi. Aku langsung duduk di bangku dan membuka buku yang akan di pakai untuk tes. Chcha yang nyadar kalau aku sudah datang langsung memanggil.
”Cieee...rajin banget...” nyengir Chacha.
”Ya, harus rajin dong. Abis biar cepert dapet Hape baru,” kataku bercanda.
”Emangnya apa hubungannya hape sama tes?” tanya Marka.
”Ya, kata emakku kan kalau tes pertama bagus dibeliin hape...”
”Yailah...”
”Ada apa neh?”
”Tasya dah pacaran tuh.”
”Hah?! Masa?”
”Iya...hehehe kemaren aku nerima pernyataan cintanya mas Ali,” kata Tasya malu-malu. Tiba-tiba bel berbunyi. Kami menyiapkan pensil, penghapus, orotan, dan alas untuk menulis. Bu Nani masuk kelas membawa map yang kelihatannya berisi soal-soal tes. Setelah itu bu Nani membagikan soal-soal dan lembar jawaban. Kamipun mengerjakan serentak setelah bel tanda mengerjakan berdering.
Setelah 3 jam menegrjakan 150 soal yang berisi soal matematika, fisika, biologi, dan bahasa inggris kamipun beristirahat. Kami membahas soal-soal tes tadi sambil minum es dawet. Tanpa disadar topik pembicaraan kami beralih ke Angga. Aku yang sedang enak minum es dawet sambil dengerin lagu Avril Lavigne judulnya Girlfriends jadi tersedak.
”Kamu kenapa, Han?” tanya Chacha.
”Kamu suka sama Angga?” tanya Tasya yang bikin aku makin tersedak.
”Aduhh!!! Kalian kenapa sih? Dari kemaren bicarain masalah itu melulu.”
”Sorry, sorry. Tapi kamu suka, kan?”
”Maksudmu apa sih? Urus aja tuh pacarmu.”
”Sorry, deh! Eh, kamu udah punya nomernya Angga? Kita satu kelompok. Nih?” tanya Chacha.
”Makasih.”
”Yuk masuk dah bel.”
”Ok!”
Akhir nya kami masuk. Kami memulai pelajaran bahasa inggris. Tak serasa sudah bel ISOMA(Istirahat-Sholat-Makan) kamipun segera bergegas menuju mushola untuk sholat dhuhur. Kulihat Angga dan teman-temannya juga datang ke mushola untuk sholat dhuhur. Tiba-tiba Angga melambaikan tangan menyapaku.
”Hai, Han!” sapa Angga.
”Hai!” jawabku.
”Eh, Ngga. Kamu punya temen cewek gak mau ngenalin?” tanya salah seorang temen Angga.
”Eh, kalian ini! Han, ini Kiky dan Yuda,” kata Angga.
”Ayu.”
”Hai, aku Chacha dan ini Marka,” kata Chacha bersemangat.
”Hai, mau sholat, ya?”
”Iya, bareng yuk!” kata Chacha dan Marka bebarengan.
”Loh, Tasya mana?” tanya Angga sambil berjalan pergi. Chacha dan Marka sengaja mendekatkanku dengan Angga sehingga membuat wajahku memerah.
”Kamu gak apa-apa? Wajahmu merah?” tanya Kiky yang membuatku kaget.
”Ah, gak apa-apa.”
”Eh, kita kedepan dulu, ya?” kata Yuda.
“Iya.” Jawabku sambil duduk di teras mushola melepas sepatu. Kulihat di mushola ini tak ada anak yang memakai baju siswi SBI. Saat aku selesai mengambil air wudhu tiba-tiba seorang siswi SBI menabrakku.
”Eh, maaf, maaf!” kata gadis itu sambil membungkukkan badan. Dia berambut panjang yang diikat dua setengah.
”Eh, iya. Gak apa-apa. Kamu anak SBI?” jawabku.
”Iya. Namaku Nana. Kamu?”
”Aku Hanna. Anak kelas 1-C kelas regular,” jawabku. Lalu anak itupun pergi ke dekat temannya. Tiba-tiba aku melihat Angga dari celah-celah kaca. Entah mengapa aku jadi ingin menatap Angga.
Sabtu, 05 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar