Jumat, 04 September 2009

Masa Awal SMP


 Masa Awal SMP
Hari ini aku akan mengawali masa SMPku. Namaku Hanna, hari ini aku resmi masuk SMP Tunas Bangsa. Banyak serangkaian peristiwa kualami saat aku mau masuk SMP ini.
SMP Tunas Bangsa adalah SMP yang mencari murid yang memiliki standart intelektual yang tinggi. Dari murid yang mendaftar sekolah ini mungkin hanya 500 dari 1200-1300 anak yang masuk. SMP Tunas Bangsa memiliki 20 kelas yang terbagi antara 10 kelas regular dan 10 kelas berstandart  internasional. Satu kelas diisi paling banyak 25 anak.
            Hari ini aku sangat senang karena perjuanganku tidak sia-sia. Pagi ini aku ada penyambutan untuk murid baru dan program MOS (Masa Orientasi Siswa). Aku berusaha sangat rapi karena hari ini adalah hari yang sangat penting.
            ”Huwaaa!!! Aku telat!!!!” teriakku turun dari tangga sambil memakai kaos kakiku.
            ”Hanna...Kamu kok lelet banget sih! Sudah SMP kok masih telat aja!” ujar Kak Fanny yang sedang bersiap berangkat sekolah.
            ”Abisss... Aku tadi malem gak bisa tidur gara-gara terlalu seneng,” kataku sambil memakai dasiku.
            ”Ah, udah aku gak mau ambil ribut! Mending berangkat dari pada telat. Aku berangkat, ya!!!” Kata kakakku.
            ”Iya... Hanna, cepet gih. Nanti kamu telat!” kata Mama mengambilkan roti selai untukku.
            ”Aku berangkat!!!” kataku sambil memakan roti selai. Hari ini aku benar-benar tidak boleh terlambat. Ini adalah langkah pertamaku menanjak masa ABGku.
            Ternyata sekolah sudah sangat ramai dipenuhi murid-murid kelas satu yang sepertinya sangat tidak sabar menanti saat-saat masuk kelas. Seluruh kelas dua dan tiga melihat anak-anak kelas satu yang seperti anak bayi yang baru mengetahui satu tempat.
            ”Ah, maaf!!!” kata seseorang menbrakku. Aku melihat orang itu. Aku mendongakkan wajahku karena anak itu tinggi. Dia seorang laki-laki tampan berbadan tinggi. Sepertinya dia anak kelas dua.
            ”Ah, tidak apa-apa...” Tiba-tiba ada panggilan.
            “Panggilan untuk siswa-siswi kelas satu agar segera menuju ruang aula.”
            “Maaf, aku duluan,” ujarku. Lalu aku pergi meninggalkan anak itu. Lalu akupun berpikir “Siapa anak itu, ya?”.
            Aku sampai di ruang aula tepat pada waktunya. Aku sempat kesasar saat mencari jalan ke aula karena sekolah ini sangat luas. Kulihat di aula sudah dipenuhi murid-murid baru. Acara penyambutan murid baru dimulai. Masih terdengar riuh suara murid-murid baru ini yang sepertinya tidak akan berhenti.
            ”Hei, kamu, kamu...,” panggil seseorang di belakangku.
“Ah, iya. Ada apa?” jawabku.
“Siapa namamu? Aku Chacha dan dia Marka,” kata gadis yang duduk dibelakangku.
            ”Hai!!!” sapa anak disebelahnya.
            ”Aku Hanna, salam kenal,” kataku.
            ”Kamu anak regular kan?” tanya Chacha.
            ”Iya, kalian juga?”
            ”Iya, dong!!!” jawab mereka bebarengan.
            Akhirnya acara penyambutan murid baru selesai. Kami bertiga segera pergi ke papan pengumuman ruang kelas. Kami segera mencari nama kami dikeseluruh nama-nama siswa di papan pengumuman itu. Kolihat namaku di kelas 1-C.
            ”Aku masuk kelas 1-C,” kataku.
            ”Aku juga,” kata Chacha.
            ”Aku, aku juga,” kata Marka.
            ”Yuk, ke kelas C.”
            Akhirnya kami berlari menuju ke kelas 1-C. Kami bertiga sampai di kelas 1-C. Semua siswa-siswi kelas 1-C regular semuanya memakai pakaian biru-putih dengan dan dasi biru. Semua siswa regular memakai pakaian biru-putih sedangkan siswa-siswi berstandart internasional memakai baju putih-ungu bermotif kotak-kotak dengan model murid laki memakai jas putih dan dasi ungu dan murid perempuan memakai baju seperti baju pelaut dan dasi ungu yang kecil dan lucu.
            Aku duduk sebangku dengan seorang gadis cantik yang sepertinya baik dan pendiam.
            ”Permisi, apakah bangku ini kosong? Bolehkah, aku duduk disini?” tanyaku sopan.
            ”Iya. Duduk saja. Nama Tasya. Kamu?” jawab gadis itu.
            ”Aku Hanna. Ini Chacha dan Marka.”
            “Marka.”
            “Tasya.”
            “Chacha.”
            “Tasya.”
            Lalu beberapa menit kemudian dua orang kakak kelas datang. Mereka datang membawa beberapa selebaran dan karton.
            ”Selamat pagi, Adik-adik! Saya Sesilia.”
            ”Saya Bayu. Kita akan memberitahu kalian peraturan-peraturan yang harus dilakukan yaitu...” belum sempat aku mendengarkan peraturan dari mulut kak Bayu, Chacha memanggilku.
            ”Kak Bayu itu keren, ya?” kata Chacha.
            ”Masa?” tanyaku keheranan.
            ”Yah, kok kamu gitu sih? Dengerin dong...”
            ”Iya, iya... terus kamu suka sama dia?”
            ”Hmmm...” tiba-tiba seseorang memegang pundakku.
            ”Adek...bikin kelompok yaaa...terus minta tanda tangan ke seluruh kakak kelas selama tiga hari MOS di karton ini dan tulis nominasi di papan tulis...” kata kak Sesilia.
            ”Tuh, kan!” keluhku.
            Akhirnya aku, Chacha, Tasya dan Marka menjadi satu kelompok. Tiba-tiba seorang anak cowok datang meminta untuk dimasukkan menjadi satu kelompok dengan kami. Setelah kulihat ternyata cowok itu adalah cowok yang tadi kutabrak. Ternyata dia juga anak baru.
            ”Aku Angga. Kamu yang tadi kutabrakkan? Maaf, kamu siapa?”
            ”Aku Hanna.”
Dan akhirnya kami akan menghadapi MOS hingga tiga hari kemudian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar